Lainnya

Bakso Bonus Kuman

“Mas, kalo bisa jangan sentuh baksonya dengan tangan. Kan tadi tangannya cuci piring, terima duit trus merokok juga. Tangannya bungkus pake plastik mas!”

Si Mas bakso senyum2 saja sambil mengucap balasan defensif, “Tidak apa2 Pak, tangan saya bersih”

“Wah ndak bisa begitu Mas,” kata saya, tetap dengan senyum yang berusaha dikembangkan di tengah kejengkelan.

“Kuman itu ndak keliatan, Mas. Kasian pembeli, minimal bisa kena diare kalo begini”.

Sebenarnya tadi waktu ngobrol sama Mas bakso sy tidak pakai kata diare. Tapi sy tulis diare di sini karena pertimbangan kurang sopannya kata mencret.

Jiaaaah… Tertulis juga..

Lanjut!!!

Mas bakso mulai tersenyum sinis. Seolah terganggu dgn saya yg mengajaknya kembali ke jalan yang sehat.

“Pak, saya ini sudah 5 tahun jual bakso, BELUM PERNAH ADA pembeli yang bilang mereka mencret!”

“Ya iyalah Mas. Tidak ada yang mengaku mencret karena kalau mencret, mana mereka mau ke sini lagi? Belum lagi kalo mereka cerita ke teman2nya, makin banyak org yg tidak mau makan di sini padahal bakso Mas enak sekali!”

Si Mas langsung diam. Menatap kosong ke dalam pancinya yang berisi bakso-bakso penuh bakteri.

=========

Moral of the story…

Kebanyakan orang cuma peduli pada hal2 yang berkaitan dengan kebahagiaan dan kesengsaraan diri mereka saja.

Ketika diminta untuk peduli pada kesengsaraan orang lain, kebanyakan mereka tidak bereaksi.

Tapi ketika kesengsaraan orang lain ternyata bisa mengurangi kebahagiaan mereka, barulah mereka mau peduli.

Manusia oh manusia… 🤣🤣🤣

penulis : Elvin Miradi

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *