Inspirasi
Trending

Karena JOKOWI

Apakah hukum itu suatu kepastian? Belum tentu. Dia bisa sama absurd dengan puisi gelap. Apalagi kalau nurutin John F. Kennedy, ‘jika politik kotor, puisilah yang membersihkan’. Mangsalahnya, nyuci sendiri atau ke tukang laundry?

Dalam sidang Mahkamah Konstitusi Jumat (21/6) kemarin, empat di antara sembilan hakim MK, alumni UGM. Tim Ahli Capres 01, produk UGM pula. Sedang tim hukum Capres 02, lulusan UGM juga. Setidaknya 9 orang dari satu almamater. Tidak abuse of UGM? Apalagi semua karena seorang lulusan Kehutanan UGM?

Tetapi ini mungkin periode rezim UGM. Coba saja lacak, di sekretariat kepresidenan, mungkin ‘all the president’s men’ dipenuhi orang-orang UGM. Era UI, IPB, mulai berkurang. Coba bandingkan ketika presidennya dulu lulusan ITB (Sukarno), IPB (SBY).

Era Habibie, meski beragam, mereka banyak yang berlabel ICMI. Baru pada era Gus Dur dan Megawati, warnanya campur-baur. Sekalipun wajar, lokomotif menggeret gerbong masing-masing.

Cobalah kita bayangin, bijimana jika presidennya Prabowo. Apakah akan mirip suasana Istana Presiden kayak jaman Gus Dur? Atau justeru sedikit aneh? Karena itu tak usah dibayangkan. Mending mbayangin apa keputusan gila Jokowi, yang miring-miring, yang bakal membuat pihak-pihak tertentu adem-panas gulung-koming?

Dalam menjalani kekuasaan periode ke-dua (2019 – 2024), Jokowi tak akan ada lagi beban. Tak bakal mencalonkan lagi di Pilpres berikut. Keputusan yang tak populer mungkin bisa digeber. Resiko politik tak lagi mengancam. Juga tekanan parpol. Dia bisa lebih keras menekan ASN dalam kinerja dan mentalitasnya. Mungkin dia juga bisa geser generasi Wiranto cum suis, deretan para mantan yang problematik dan dilematik itu.

Akan menarik jika sehabis sidang MK ini, Jokowi meresuffle kabinet dan memasukkan AHY. Atau tunggulah Oktober kelak, setelah dilantik. Jokowi mungkin akan mendorong munculnya calon-calon pemimpin muda dari kalangan sipil. Sementara setelah pesta usai, ia benar-benar balik kampung. Kembali menekuni bisnis meubel. Sementara Amien Rais, menjadi gelandangan politik. Lontang-lantung.

Fakta politiknya, dengan caranya sendiri di tengah realitas politik, Jokowi artikulator penting tersambungnya amanat Reformasi 1998, yang mentok, tak bisa jalan pada era-era sebelumnya. Apalagi ketika era SBY. Parpol hanya jadi sarang para pengkhianat amanat rakyat, dari sejak 1998. Rakyat tetap saja objek, bukan subjek.

Dalam berkelit di antara angin puting beliung dan pusaran gelombang, Jokowi lebih tangguh daripada Gus Dur (dinaikkan kemudian diturunkan di satu tangan, Amien Rais). Waktu libur lebaran di Yogya kemarin, Jokowi telah membalaskan ‘kemaluan’ Gus Dur. Ia cuekin Amien Rais di Yogya. Sebagai sesuatu yang tak penting sama sekali.

Jokowi pemain catur yang dingin. Seperti ujar Johann Kaspar Lavater, mistikus Swiss, “mereka yang jarang berbicara, tapi hanya dengan satu kata mampu menghentikan cercaan orang bodoh yang banyak omong. Dialah jenius. Seorang pahlawan.”

 

Sunardian Wiradono

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close